“ Meneladani Akhlak Rasulullah SAW sebagai bekal menghadapi globalisasi”

Globalisasi merupakan fenomena di mana masyarakat dunia terhubung satu sama lain. Globalisasi ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi informasi dan transportasi yang telah menghasilkan perubahan dalam kebudayaan manusia. Sebagai umat Islam kita harus memfilternya agar tidak terjerumus pada arus globalisasi. Agama Islam sangat memperhatikan upaya menciptakan generasi qur’ani (pandangan dan perilaku berbasis nilai qur’an), pribadi berkarakter, dan berkualitas.

Oleh karena itu, HMJ Biologi Nanas Merah Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya mengadakan suatu kegiatan yaitu Kajian Islami yang merupakan suatu program kerja dari Departemen Agama yang berisi kajian keagamaan khususnya di lingkungan kampus guna meningkatakan imtaq mahasiswa.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Oktober 2020 pukul 08.00 WIB, melalui aplikasi zoom meeting dengan narasumber yaitu Ustadz Hermawan. Kajian Islami ini dilkasanakan secara online karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Ustadz Hermawan mengungkapkan bahwa, di era sekarang ini banyak orang lebih mengenal atau menggandrungi artis barat. Pada era sekarang ini Ada dampak positif dan negatif dalam kemajuan teknologi, dampak positif seperti penyebatan informasi dan komunikasi yang tak terbatas ruang dan waktu. Maka adanya kemajuan teknologi juga berdampak baik maupun buruk seperti menggunakan sebuah pisau. Terkadang di dunia maya kita tidak mengontrol penggunaan media social seperti menggibah, mengumbar kekayaan padahal di dalam Islam tidak menganjurkan seperti itu. Oleh karena itu kita harus memfilter arus globalisasi sehingga kita tidak akan terhanyut dengan keadaan.

Beliau juga menyampaikan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah S.A.W. di era globalisasi seperti sekarang. Dalam sebuah buku berjudul “100 Orang Yang Berpengaruh” yang ditulis pada tahun 80-an oleh seorang non-muslim bernama Michael Hard, Nabi Muhammad S.A.W. diletakkan di posisi pertama dalam buku tersebut. Menurut Hard, karena sejak zaman Rasulullah berabad-abad yang lalu sampai saat ini pun masih banyak pengikut yang mencintai Rasulullah S.A.W. Pada suatu kejadian, seorang sahabat Nabi pernah bertanya kepada Aisyah R.A. tentang bagaimana akhlak Rasulullah, dan Aisyah pun menjawab bahwa akhlak Rasulullah itu seperti Alqur’an.

Ketika kita mengidolakan seseorang berarti kita mencintainya, sehingga secara tidak langsung ucapan dan tingkah laku kita mencontoh orang yang kita idolakan tadi. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk memilih idola yang tepat yang dapat memengaruhi kehidupan dunia maupun akhirat kita nanti.

Rasulullah pernah menyampaikan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan akhiratnya. Dalam surah Al-Ankabut ayat 64 Allah S.W.T. berfirman “Tiadalah kehidupan di dunia ini hanya senda gurau dan kehidupan akhiratlah yang sebenarnya.” Dan dalam surah Al-A’la ayat 17 yang menyatakan bahwa akhirat itu kekal. Dengan momentum kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. ini mari kita bersama meneladani Rasul dengan mencontoh dan mencintai apa yang telah diperbuat Beliau seperti ucapan, sikap, dan kehidupan sehari-harinya, jangan sampai kehidupan kita terlena dengan urusan dunia dan melupakan akhirat yang kekal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »