Memperingati hari pendidikan nasional ditengah-tengah pandemi COVID-19? Tentu bisa dilakukan! hanya saja, pelaksanaannya yang berbeda. Dari yang biasanya dilakukan dengan upacara bendera, kali ini HMJ Biologi “Nanas Merah” FMIPA UNESA mengemasnya dalam sebuah acara diskusi online dengan tema “COVID-19 dan Pengaruhnya Terhadap Pola Pembelajaran di Indonesia.”

Diskusi ini diikuti oleh 740 Peserta dari berbagai kalangan dan wilayah. Dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 2 mei 2020, dan dimulai dari pukul 08.00 hingga 12.30, di WhatsApp Grup (WAG). Dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni dosen Mikrobiologi-Virologi, Dr. Mahanani Tri Asri, M,Si., dosen Imunologi, Erlix Rakhmad Purnama, S.Si., M.Si., dan dosen Pendidikan Jurusan Biologi, Dr. Rinie Pratiwi Puspitawati, M.Si.

Dalam pemaparannya, Mahanani menyampaikan Coronavirus (CoV) adalah famili virus yang menyebabkan berbagai penyakit, seperti pada MERS dan SARS yang menyebabkan penyakit seperti influenza dan menginfeksi saluran pernapasan. Gejala yang di timbulkan seperti Batuk, panas, mual/muntah, sakit kepala, dll sampai mengalami tahap lanjut radang paru-paru dan bronkitis. Proses penyebaran CoV ini dapat melalui  tetesan kecil cairan (droplets) yang disebarkan orang yang terkena, kontak dengan sekresi pernapasan pasien, permukaan dan peralatan yang terkontaminasi. Penularan dari hewan dan dari orang ke orang. Sedangkan  “Belum” ada obat atau vaksin, baru ada langkah-langkah pendukung saja. 

Sebagai ahli imunologi, Erlix juga memaparkan bahwa Sistem imun memiliki peran penting dalam pertahan diri kita terhadap penyerangan virus, seperti COVID-19. Sedangkan sistem imun yang dimiliki oleh setiap orang berbeda-beda, perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya faktor jenis kelamin dan usia (menurut penelitian).Erlix juga menambahkan bahwa tubuh saat sedang terkena suatu virus akan merangsang sebuah reaksi imun yang luar biasa, sehingga hal ini bisa menimbulkan rasa sakit ketika reaksi imun sedang bekerja. Namun tidak semua individu dapat merasakan sakit, karena hal ini tergantung pada kekebalan sistem imun yang dimiliki. Hal ini dikarenakan terjadinya badai sitokin atau protein terlarut dalam darah yang memiliki peran imunologis dalam tubuh. Nah, dalam kasus COVID-19, virus ini akan menghasilkan endapan cairan pada alveoli di paru-paru seperti batuk berdahak. Kesembuhan dari pasien COVID-19 tergantung pada sistem imun yang dimiliki oleh pasien, ada juga kajian tentang COVID-19 ini menyerang sel T pada tubuh.

Di lain sisi, Rinie mengutip petuah dari Ki Hajar Dewantara yaitu, “Jadikanlah setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru.” Petuah ini dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran, seperti saat pandemi ini, di mana kita hanya bisa belajar di rumah, menjadikan rumah sebagai sekolah, dan siapapun yang lebih dewasa di rumah sebagai guru. Pembelajaran bisa dengan apresiasi, esensi dari apresiasi yang dapatkan diterapkan dengan pola pikir, proses mencari, memahami, mencari hal baru, hal positif dan keuntungannya dan diimplementasikan guna menjawab atau menyelesaikan masalah.“Dengan apresiasi dapat menciptakan sikap saling terbuka, saling menghargai, percaya diri akan hal-hal yang positif, dan bahkan melahirkan inovasi baru. Dengan anak-anak didik kita bisa mengapresiasi kondisi ini, khususnya kondisi pandemi melalui gawai mereka masing masing, maka akan berkembang keterampilan-keterampilan seperti yang disyaratkan pada keterampilan abad ke 21 yaitu : critical thinking, communication, creativity, and collaboration. Kreativitas akan muncul bila kita dapat mengapresiasi fenomena, proses atau fakta-fakta,” jelas Rinie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »